<script data-ad-client="ca-pub-4534325507828990" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>Pembelajaran sejarah merupakan hal yang sangat penting karena dengan belajar sejarah orang dapat mengenal jati diri bangsanya dan sebagai landasan keterampilan intelektual dan sosial dari generasi muda bangsa. Pembelajaran dalam ruang lingkup pendidikan juga harus sesuai dengan kondisilingkungan pada masyarakat sekitar, karena pendidikan itu ada di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan disesuaikan dengan yang dibutuhkan masyarakat di setiap daerah yang berbeda-beda aspek kehidupannya.
Pembelajaran sejarah juga bertujuan agar dapat mendorong siswa untuk dapat berpikir kiritis-analitis dalam memanfaatkan pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan masa kini dan akan datang, memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan berkelanjutan masyarakat.
Pengembangan wisata dapat dilakuakan oleh banyak orang, baik pengeola ataupun orang yang tinggal disekitar lokasi wisata tersebut. Salah satu jenis dari pariwisata ialah wisata edukasi atau pendidikan. Situs makam Papan Tinggi yang terletak di Barus merupakan pariwisata lokal yang seharusnya bisa lebih dikembangkan lagi oleh pengelola dalam hal ini ialah dinas terkait, baik Dinas Pendidikan ataupun Dinas Pariwisata setempat. Situs ini bisa dijadikan sebagai pariwisata andalan Barus mengingat Barus merupakan titik nol peradaban Islam di Indonesia yang ditetapakn oleh presiden Jokowi pada tahun 2017 lalu. Dengan ditetapkannya Barus sebagai titik nol peradaban Islam di Indonesia, seharusnya lebih mengangkat keberadaan situs makam Papan Tinggi atau situs lain yang ada di Barus. Pengembangan situs tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti salah satunya ialah, menjadikan situs tersebut sebagai salah satu media pembelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
1 Sejarah Makam Papan Tinggi
Barus adalah merupakan daerah yang kaya dengan tinggalan budaya keagamaan. Salah satu tinggalan budaya yang sampai saat ini dapat disaksikan adalah adanya makam-makam kuno yang menarik untuk diteliti secara terus-menerus. Barus bahkan dikenal dengan kota auliya. Kekayaan itu menambah bukti di mana perdangangan Sumatera dengan Cina setidaknya berawal pada abad ke-7, dan pada era tertentu dicari oleh para pedagang dari India dan Timur Tengah. Informasi adanya kunjungan ke Barus secara langsung oleh pedangang Cina dan India yang mencari damar untuk diangkut ke pelabuhan-pelabuhan di Sumatera Utara dan Timur, masih belum diketahui secara pasti. Namun nama Barus dalam catatan Cina masa lampau dihubungkan dengan damar dan kapur barus yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya. Sekitar abad ke-10, ada bukti yang menimbulkan kesan bahwa pedagang dari Timur Tengah memang langsung mendatangi pantai Barat Sumatera untuk mencari kedua damar tersebut. Kemudian Barus dikenal oleh bangsa Arab dengan nama Fansur dan nama itu telah muncul dalam beberapa sumber di masa lalu.
Dalam tradisi lokal terdapat 2 (dua) versi tertulis sejarah lisan tentang Barus yang berasal dari abad XIX. Versi pertama dikumpulkan oleh Kapten Inggris, David Jones, yang tahun 1815 dikirim ke Aceh sebagai komandan kapal Ariel oleh pemerintah Penang untuk menyelidiki satu kasus pembajakan laut. Sejarah lisan ini disampaikan oleh Tuanku Bahroos, seorang pemimpin lokal pada saat David Jones singgah di Barus. Menurut sumber ini, sebelum Barus (Bahroos) didirikan ada seorang raja Ooloo (hulu), atau raja di pedalaman yang tinggal di atas bukit Maligie (Mahligai) yang juga merupakan nama seluruh negerinya. Kemudian datang seorang dari bangsa Se Bunyan (orang gaib) yang berasal dari Pansohor (Pansur) untuk mengislamkan raja dan penduduknya. Mereka, kemudian dibawa ke Pansur dan akhirnya menetap di bukit See Mumpatoo (Si Mumpatu?) selama satu musim untuk belajar unsur-unsur dasar agama Islam dan bahasa Pansur, serta tempat mereka disunat. Mantan raja tersebut, akhirnya, dijadikan pemimpin mereka.
Tradisi lokal versi kedua dimuat dalam kronik kerajaan Batak yang disebut kronik ”hulu”, ditulis dalam bahasa Melayu. Teks ini, yang diterbitkan oleh Jane Drakard, ditulis pada tahun 1870-an, tetapi kemungkinan besar didasarkan pada catatan-catatan yang lebih tua dan juga berdasarkan tradisi tradisi lisan. Kronik ini menceritakan latar belakang berdirinya sebuah kerajaan baru di dataran tinggi Batak oleh seorang yang bernama Alang Pardosi. Salah seorang putranya, Guru Marsakot, bersama rakyatnya turun ke pesisir (hilir) untuk mencari satu tempat untuk mendirikan kampung baru. Kemudian mereka bertemu satu pincuran, yang dinamakannya Pancur dan tinggal di sana beberapa hari. Di tepi laut Guru Marsakot bertemu dengan orang Ceti, yang berasal dari negeri Keling, yang kapalnya rusak dan terdampar di daerah itu. Orang-orang Ceti ini berusaha membuat perahu, agar dapat kembali ke negeri Keling, tetapi semua kayu yang dipotongnya ternyata ada busuknya. Oleh karena itu, tempat tersebut mereka namakan ”Air Busuk”. Kampung ini kemudian didatangi juga oleh orang-orang dari tempat lain, bahkan berbagai bangsa, sehingga menjadi sebuah negeri. Mereka kemudian menjadikan Guru Marsakot menjadi raja di tanah Pansur dan menetap di Kampung Air Busuk. Lama kelamaan rakyatnya semakin banyak. Adat yang mereka gunakan adalah kombinasi adat Ceti, adat Batak, adat Aceh, dan adat Melayu. Setelah beberapa waktu, raja bersama rakyatnya pindah ke Lobo Tuha (Lobu Tua). Rakyatnya dari waktu ke waktu semakin ramai, hingga sampai ke Sungai Macu. Sebagian penduduknya menjadi pedagang kaya yang berniaga dengan kapal Keling, Arab, dan Aceh. Setelah Guru Marsakot meninggal, digantikan oleh anaknya, Tuan Namora Raja.
Sejarah Barus telah mendunia lewat situs, artefak serta catatan sumber sejarah yang memperlihatkan Barus kota kuno yang penting di dunia. Tetapi saat ini Barus menjadi terlupakan dan hilang dari memori kolektif kesejarahan Indonesia. Barus terpinggirkan dari pentas sejarah nasional, dan seperlunya saja untuk diperbincangkan sepanjang tidak terganggu dan menyinggung sejarah nasional. Untuk itu Barus sebagai kota tua dan kota maritim Islam menarik untuk digali dan dikenalkan ke masyarakat luas dan menjadi sejarah lokal yang menjadi penting di tingkat nasional melalui peninggalannya yang kaya. Tinggalan sejarah Islam yang menarik untuk diteliti dan dikaji. Merekalah para penyebar dan pembawa Islam di wilayah ini, dan mereka meninggalkan peradaban yang terus perlu digali dan dikembangkan dan diwariskan kepada generasi penerus yang ada, terlebih dengan makam para auliya yang sampai saat ini belum ditemukan secara keseluruhan.
Daerah Barus dan sekitarnya ditinjau dari segala aspek mempunyai potensi yang sangat bessar terutama potensi pariwisatanya. Sektor pariwisata bahari dan keindahan alam lainnya. Hal ini didukung dengan kondisi alam dan masyarakat Barus yang ramah serta banyak objek wisata yang tersebar diwilayahnya. Objek wisata pantai merupakan primadona tersendiri yang dimiliki barus. Disamping itu Kecamatan Barus juga memiliki objek wisata sejarah berupa makam-makam kuno yang merupakan makam para penyebar agama Islam tempo dulu. Salah satu dari makam tersebut ialah Makam Papan Tinggi.
Kompleks Makam Papan Tinggi terletak di Desa Penanggahan, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah. Kompleks makam ini dinamakan Makam Papan Tinggi karena terletak di atas bukit yang tinggi ± 3000 meter dari permukaan air laut. Kompleks ini menempati areal seluas 40 meter x 15 meter, di batasi dengan pagar keliling setinggi 160 cm. Yang terbuat dari tembok dan besi dengan pintu masuk dari arah selatan selebar 120 cm.Untuk mencapai lokasi sejauh situs harus melewati jalan setapak dan anak tangga sejauh 1,2 km dari jalan raya. Sedangkan anak tangga sejumlah 876 buah.
Kompleks Makam Papan Tinggi membentang dari utara ke selatan dan berorientasi Utara- Selatan. Keadaan kompleks makam ini kurang terawat/bersih, hampir semua permukaan makam ditumbuhi rumput dan beberapa batang pohon. Kompleks makam ini telah dipugar oleh Kanwil Depdikbud Sumatera Utara tahun anggaran 1994/1995. Jumlah makam dalam kompleks ini sebanyak 7 buah dan seluruhnya tidak memakai jirat (badan makam). Makam ini barangkali terpanjang yang ada di Barus, bahkan mungkin di Indonesia dengan diameter sekitar 8,15 M, dan tinggi nisannya 135 cm. Diperkirakan tokoh yang dimakamkan ini adalah seorang sufi bernama Syekh Mahmud yang tertera dalam inskripsinya. Tidak semua makam diberi tanda batu nisan dan tidak berukirkan batu alam. Bentuk batu nisan menggunakan jenis batuan granit putih berbintik hitam yang menunjukkan batu nisan yang berasal dari Barus. Batu nisan penanda kepala makam berbentuk pipih dengan bagian kepala berupa lingkaran. Sementara batu nisan penanda kaki makam berbentuk pipih dan bagian kepala dipahat bergelombang. Tipologi nisan yang ada di makam ini adalah berbeda dengan nisan yang ada di Aceh. Batu nisan ini lebih bercorak kepada tipe surya majapahit yang ada di Jawa.
2. Masuknya Islam di Barus
Sebelumnya telah dijelaskan mengenai sejarah dari Makam Papan Tinggi itu sendiri. Pada bagian ini, akan dijelaskan tentang beberapa sumber dan catatan dari mengenai keberadaan Barus sebagai daerah yang sekitar abad 6-7 M telah di datangi beberapa rombongan dari Arab dan Timur Tengah lainnya.<script data-ad-client="ca-pub-4534325507828990" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
Erawadi (Jurnal Hikmah, 8, Januari 2014: 41-52) menyebutkan bahwa seorang tokoh yang bernama Ricklefs memastikan bahwa Islam sudah hadir di Asia Tenggara sejak awal zaman Islam. Utusan-utusan Muslim Tanah Arab, sejak masa khalifah ketiga, Utsman ibn Affan (23-35 H/644 –656 M), mulai tiba di istana Cina. Pada abad IX, setidaknya, sudah ada ribuan pedagang Muslim di Kanton, Cina. Kontak-kontak antara Cina dan dunia Islam itu terpelihara terutama lewat jalur laut melalui perairan Indonesia. Oleh karena itu, tidak aneh bila orang-orang Islam tampak memainkan peran penting dalam urusan-urusan perdagangan dalam skala besar di Sumatera yang beragama Budha. Wilayah bagian Barat Sumatera, menurut Anthony Reid, merupakan daratan pertama tempat pedagang India dan Arab menginjakkan kaki di Nusantara ketika berlayar ke Cina dan Kepulauan Rempah-Rempah (Spice Islands). Mereka sudah mendirikan pos perdagangan di wilayah tersebut sejak abad XI M, dan menjelang akhir abad XIII membawa agama Islam dan organisasi politik ke beberapa kerajaan-pelabuhan yang sedang berkembang di wilayah tersebut.
Dalam berbagai sumber menyebutkan bahwa Islam sebelum didakwahkan ke Aceh mulamula datang menepak di Barus yang juga wilayah yang juga pernah menjadi kekuasaan Aceh. Hanya saja perlu dinyatakan bahwa Barus tidak pernah menjadi kerajaan Islam apalagi sebuah kekuatan politik Islam. Hanya ada dua kerajaan Islam pada awalnya, yakni Peureulak dan Pasai, selanjutnya Aceh Darussalam. Proses pencarian samudra untuk mewujudkan perintah seperti yang dimaksud Nabi SAW dalam mengembangkan dakwah menjadi tujuan utama dan mereka singgah di beberapa tempat.13Informasi adanya kunjungan Barus secara langsung oleh pedagang Cina masa lampau dan India mencari dammar atau kapur barus yang paling tinggi mutunya. Sekitar abad 10 ada bukti menimbulkan kesan bahwa pedangang dari Timur Tangah mendatangi langsung Barus dan mencari dammar (kapur Barus) tersebut.14 Pertengahan abad ke-8 Masehi, Syarif Mekkah di zaman Khalifah Harun al-Rasyid bertitah dan menyiapkan kapal dari Jeddah yang dinakodahi oleh Syekh Ismail beserta Fakhri Muhammad (pernah menjabat sebagai Raja di Malbar) untuk menyiarakan Islam di Samudra. Kapal dimaksud mula-mula singgah di Fansuri Barus. Syekh Ismail dan rombongan turun kedaratan beberapa saat. Kemudian, menemukan beberapa orang untuk didakwahi disana serta meminta sekaligus mengajarkan meraka untuk membaca Alquran. Setelah dakwah selesai di wilayah Barus, Syekh Ismail meneruskan perjalanan mencari samudra, tetapi mereka singgah dahulu di Bandar Peureulak Aceh.
Menurut satu keterangan, proses masuknya Islam ke Barus khususnya, Sumatera dan Nusantara pada umumnya terkait erat dan diawali dari perjalanan para pedagang Arab yang singgah di Barus. Peristiwa itu sudah dimulai sejak zaman Nabi Muahammad SAW, yaitu orang-pedagang Arab yang pergi berdagang ke CinaTiongkok dan mereka kebanyakan singgah di Bandar Barus terlebih dahulu. Misalnya kisah seorang pedagang Arab yang bernama Wahab bin Abu Kasbah dan rombongannya. Ingin berdagang ke Cina dan singgah di pulau Morsala, yang letaknya antara pantai Barus dan Sibolga. Sumber ini juga menginformasikan bahwa misi dari pemerintah Madinah, dari Barus melanjutkan perjalanannya ke Tulang Bawang, Lampung, pusat pemerintahan Sriwijaya di Palembang, ke Brunei dan baru selanjutnya ke Kanton, Cina. Keterangan yang menyatakan orang Arab-Madinah menjadikan Barus tempat transit, jika dihubungkan dengan makammakam yang ada di situs Mahligai dan situs makam Papan Atas atau Tangga Seribu, membuktikan kebenarannya, karena yang dimakamkan di kedua situs makam tersebut umumnya dari Arab, seperti makam Syekh Mahmud yang berada di puncak bukit Tangga Seribu/Papan Atas dengan panjangnya mencapai delapan meter, pada nisannya menginformasikan bahwa almarhum berasal dari Tanah Arab.
Nama lain daripada Barus (sebelum diganti menjadi Barus) adalah Fansur, yang ditulis dalam bahasa Arab Å«rFans. Kata fansur konon bermula daripada kata pancur, ketika pedagang Arab bernama Wahab ibn Abu Kabsah sampai di perairan pantai Barus pada tahun 627 M. melihat air terjun ke laut atau air mancur di pulau Mursala yang terletak di hadapan pantai Barus. Di daerah Batak banyak digunakan kata pancur (pancuran) sebagai tempat mandi. Dari situlah berawalnya nama negeri Fansur atau Pancur. Pedagang Arab tersebut melanjutkan perjalanannya ke negeri China dan meninggal di negeri Kuang Cu. Dan disyaki, nama pulau ―mursala‖ mungkin berasal daripada kata ―moor salat‖, kerana orang-orang Arab (Moor) yang mula-mula sampai di pulau tersebut melakukan salat (salat syukur) selepas selamat mengharungi lautan luas semenjak daripada laut Sekotra di lautan Hindia. Perihal Wahab ibn Abu Kabsah (Abu Kabsah atau Abu Kasba), menurut Abdullah Abbas Nasution ahli sejarah dari Kedah, Malaysia, adalah Menteri Utusan khas dan istimewa Nabi Muhammad SAW ke negeri China Selatan, dan mendarat di pelabuhan Kanton. Ianya menemui Sri Maharaja Tang Dinasti untuk menyampaikan surat dakwah Nabi Muhammad SAW kepada Sri Maharaja Tai-Ta-Song, China Selatan.
Dari abad VIII M sampai dengan abad XI M, setelah dunia Islam menguasai wilayah Bizantium dan Sasania, banyak pelaut Arab dan Persia yang berlayar dari Teluk Persia dan Laut Merah menuju Lautan Hindia. Mereka membuka ruang ekonomi baru dengan mencari rempah-rempah di kawasan ini. Di antara tempat yang menjadi tujuan mereka adalah Fansur (Barus) dan Lamiri. Berdasarkan catatan Ibn Fakih dari Hamadan (902 M) dan al-Mas’udi (955 M) dijelaskan bahwa Kota Fansur menisbatkan namanya untuk kamper (kapur Barus) yang disebut Fansuri. Marco Polo dalam kunjungannya ke Fansur juga menyebutkan bahwa Fansur adalah tempat diproduksinya kamper terbaik di dunia.28 Petunjuk lain mengenai kehadiran komunitas muslim di Fansur adalah ditemukannya inkripsi berupa cap jimat di situs Lobu Tua yang diperkirakan berasal dari periode pertengahan abad IX M sampai akhir abad XI M.<script data-ad-client="ca-pub-4534325507828990" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
DAFTAR PUSTAKA
Azis, S.Hum “Islamisasi Nusantara Perspektif Naskah Sejarah Melayu”, Jurnal ThaqafiyyaT Vol. 16, No. 1, Juni 2015, hlm 60.
Azmi Khairu. 2018. Aceh Versus Barus Rekonstruksi Penetapan Titik Nol Islamn Nusantara. Malang: IN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Erawadi, 2014. Melacak jejak-jejak Peradaban Islam di Barus. Ygyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Hakim, Uky Firamsyah Rahman. 2019. Barus Sebagai Titik Nol Nusantara: Tinjauan Sejarah dan Perkembangan Islam. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Nurfaizal, “Barus dan Kamper dalam Awal Sejarah Islam Indonesia”, Jurnal NUSANTARA: Journal for Southeast Asian Islamic Studies Vol. 14, No. 2, Desember 2018. Hlm 79.
Lestari, Fanny. 2009. Potensi dan Pengembangan Objek Wisata Budaya di akbupaten tapanuli Tengah. Medan: USU.
Makmur. 2019. Islam Perekat Suku Bangsa Indonesia: Jejak Ulama Perintis Islam dan Integrasinya Terhadap Masyarakat di Daerah Majene, Sulawesi Barat. Makassar: Balai Arkeologi Sulawesi Barat.
Siahaan, Desi Hazrianti, dkk. 2016. Perancangan Buku Panduan Wisata Sejarah barus, Pantai Barat Sumatera Utara. Bandung: Universitas Telkom.
Uky Firmansyah, “Barus Sebagai Titik Nol Islam Indonesia : Tinjauan Sejarah dan Dakwah”. Jurnal Ilmiah Syiar, Vol. 19, No. 02, Desember 2019 hlm.172